Tidak hanya perlu memahami teori, terjun langsung ke praktik (hands-on) juga merupakan langkah yang paling penting sebelum terjun ke dunia data analyst. Sebelum mencari pekerjaan di dunia data, kamu sangat disarankan untuk membuat portfolio yang bisa diakses secara online. Kenapa? karena portfolio itu bisa jadi nilai jual kamu terhadap recruiter dan klien yang bisa dengan mudah diakses.
Di luar sana ada banyak sekali platform yang bisa dipakai buat menampilkan portflio datamu. Tapi di dunia data analyst, ada beberapa platform yang paling cocok dan efektif buat kamu nunjukin skills data dengan cara yang rapi, proffesional, tapi tetap approachable.
1. Kaggle
Di kalangan data proffesional, Kaggle merupakan salah satu platform komunitas yang cukup populer. Salah satu yang membuat Kaggle itu menarik adalah lingkungan kolaborasinya yang mana kamu bisa berdiskusi, mengerjakan data dari sumber yang sama, dan bisa melihat bagaimana cara professional lain menyelesaikan problem data yang dimiliki.
Di Kaggle juga tersedia banyak dataset yang siap pakai, cocok untuk kamu yang ingin latihan eksplorasi data, dan mencoba algoritma. Buat pemula, Kaggle bisa jadi playground yang paling direkomendasikan untuk dicoba karena dataset di Kaggle relatif rapi, terstruktur, dan cukup bersih jadi kamu bisa berfokus pada proses analisis tanpa terlalu pusing di tahap awal.
Kaggle menyediakan fitur Notebook bawaan dengan environment mirip Jupyter, lengkap dengan visualisasi dan dokumentasi. Ini memudahkan kamu untuk menyajikan analisis yang rapi, mudah diikuti, dan tetap enak dilihat.
2. Github
Memiliki profile GitHub yang aktif itu sudah menjadi standar profesional di dunia tech dan data. Banyak recruiter atau employer memang mengharapkan kandidat punya akun GitHub, apalagi untuk role data analyst, data scientist, atau tech-related roles. Kalau kamu cantumin link GitHub di LinkedIn atau CV, itu langsung kasih kesan bahwa kamu memang sudah paham ekosistem data.
Salah satu keunggulan GitHub adalah public repository-nya bisa ditemukan recruiter. Banyak recruiter yang memang mencari kandidat lewat GitHub berdasarkan skill tertentu, bahasa pemrograman, atau tipe project. Jadi, tanpa kamu sadar, GitHub kamu itu ibaratnya seperti etalase buat menampilkan skills kamu.
Selain itu, GitHub sangat menekankan dokumentasi, terutama lewat file README.md. Di sinilah kamu bisa menjelaskan project kamu dengan bahasa yang mudah dipahami: mulai dari business problem, tujuan analisis, data yang digunakan, metode atau tools yang kamu pilih, sampai insight utama dan hasil akhir. README yang rapi dan jelas sering kali lebih penting daripada kode yang terlalu kompleks tapi nggak dijelaskan.
3. Medium
Selain bikin project, ngomongin dan menceritakan project kamu juga sama pentingnya. Percuma punya analisis bagus kalau nggak ada yang tahu. Nah, Medium adalah salah satu platform terbaik buat membangun audiens, terutama oleh audiens yang lebih luas termasuk recruiter dan hiring manager.
Medium memang dirancang untuk komunikasi teknis dan storytelling. Lewat artikel blog, kamu bisa menceritakan perjalanan project data kamu: mulai dari business problem-nya apa, data apa yang dipakai, gimana proses analisisnya, sampai insight dan kesimpulan yang kamu temukan. Konsepnya mirip seperti README GitHub dalam membangun narasi tetapi lebih ke blogging style sehingga pembaca bisa lebih mudah untuk memahami seperti membaca pada umumnya.
4. Website
Kamu sekarang sudah tahu kan, ternyata ada banyak tempat untuk nge-host portfolio kamu. Nah, sebagai seorang data professional, kamu juga disarankan untuk punya satu website profesional pribadi untuk menunjukkan semua link portfolio kamu yang ada di berbagai platform. Gunanya ya biar mempermudah recruiter buat nge-stalk kamu. Dengan personal website, kamu nggak perlu nyebar link ke mana-mana—cukup satu link, semua karya dan profile kamu bisa langsung kelihatan.
Selain soal kerapian, personal website juga kuat banget dari sisi personal branding. Kamu bisa bebas mendesain tampilan website sesuai identitas profesional dan kepribadian kamu, mulai dari gaya visual, tone tulisan, sampai cara kamu menceritakan perjalanan karier. Ini bikin kamu lebih stand out dan mudah diingat dibanding kandidat lain yang cuma punya CV standar.
Kalau kamu tertarik ke jalur ini, tenang aja—nggak harus jago teknis dulu. WordPress bisa jadi pilihan awal yang bagus, Wix cocok banget buat yang pengen praktis dan minim teknis, sementara Framer sekarang juga makin populer di kalangan profesional karena tampilannya modern dan clean untuk portfolio. Tinggal pilih yang paling sesuai sama kebutuhan dan kenyamanan kamu.
Mulai Portfoliomu Sekarang
Kalau kamu benar-benar ingin serius terjun ke dunia data sebagai profesional, punya portofolio data yang solid bisa jadi game changer. Portofolio bukan cuma soal pamer hasil, tapi bukti nyata bahwa kamu bisa mengerjakan data dari awal sampai jadi insight, bukan sekadar paham teori.
Dengan membangun portofolio yang kuat, kamu otomatis mengasah skill lewat praktik langsung. Semakin sering ngerjain project, semakin kebentuk juga cara berpikir analis kamu. Di sisi lain, portofolio ini juga sangat membantu buat menarik perhatian recruiter, karena mereka bisa langsung lihat kemampuan kamu tanpa harus nebak dari CV doang. Bahkan, dari portofolio ini juga bisa terbuka peluang income baru—mulai dari freelance, project kecil, sampai jadi pintu masuk ke perjalanan kamu sebagai data professional atau data freelancer.